Portal Berita Papua Tengah Wednesday, 30 September 2026
BREAKING NEWS
Papua Tengah Dapat 300 Bedah Rumah dan 3.000 Hunian Baru
Nabire

Genap Satu Tahun, MEPA Boarding School Perkuat Pendidikan Karakter dan Budaya Papua

Dipublikasikan 30 Sep 2026 · PapuaTengah
(Mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Staf Ahli III Gubernur Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum Provinsi Papua Tengah, Marthen Ukago, menyampaikan apresiasi)
Nabire, Satu tahun perjalanan pendidikan MEPA Boarding School menjadi momentum untuk menegaskan kembali arah lembaga tersebut dalam membentuk generasi Papua. Perayaan Dies Natalis ke-1 yang berlangsung di kompleks MEPA Boarding School, SP 2 Kampung Kali Semen, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Rabu (30/9/2026), mengangkat tema “Rooted in Culture, Growing Toward the Future”.
Tema tersebut menggambarkan gagasan bahwa kemajuan pendidikan tidak harus membuat generasi muda Papua meninggalkan identitas dan warisan budayanya. Sebaliknya, budaya diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam membangun karakter sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi perubahan zaman.
Perayaan satu tahun MEPA Boarding School juga menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan lembaga pendidikan tersebut sejak mulai beroperasi pada 30 September 2025.
Sejumlah unsur pemerintah dan masyarakat hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Wakil Ketua II DPRP Papua Tengah Dr. Petrus Izaach Suripatty, perwakilan Pemerintah Kabupaten Nabire, Kepala Distrik Nabire Barat Osea Wakei serta para tamu undangan lainnya.

Siswa Tampilkan Ragam Budaya Papua

Salah satu bagian utama dalam perayaan tersebut adalah penampilan seni dan budaya yang dibawakan para siswa MEPA Boarding School.
Berbagai ekspresi budaya dari masyarakat Papua, baik yang berasal dari kawasan pegunungan maupun pesisir, ditampilkan dalam rangkaian acara.
Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi para tamu. Para siswa juga diajak memahami kembali bagaimana kehidupan masyarakat Papua pada masa lalu sebelum perkembangan teknologi, infrastruktur dan perubahan sosial berlangsung seperti sekarang.
Melalui pendekatan tersebut, budaya ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan.
Pesan itu sejalan dengan tema Dies Natalis yang menekankan pentingnya memiliki akar budaya sekaligus memandang masa depan.
Inspirasi tema tersebut juga dikaitkan dengan Mazmur 78:4-7 yang berbicara mengenai pentingnya mewariskan pengalaman, nilai dan karya Tuhan kepada generasi berikutnya.

Pemprov Papua Tengah Soroti Pentingnya Pendidikan Karakter

Mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa, Staf Ahli III Gubernur Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum Provinsi Papua Tengah, Marthen Ukago, menyampaikan apresiasi atas perjalanan MEPA Boarding School selama satu tahun.
Menurut Marthen, peringatan Dies Natalis semestinya tidak berhenti pada perayaan bertambahnya usia sebuah lembaga. Momentum tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi perjalanan yang sudah dilakukan dan menyusun langkah perbaikan ke depan.
Ia berharap MEPA terus memperkuat fondasi pendidikan, termasuk pada aspek karakter, kedisiplinan dan tanggung jawab.
“Memasuki usianya yang pertama, saya berharap MEPA Boarding School dapat terus membangun fondasi pendidikan yang kuat, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pendidikan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan nilai-nilai kehidupan,” ujar Marthen.
Ia menilai sekolah mempunyai fungsi yang lebih luas daripada sekadar memberikan materi pelajaran.
Sekolah, kata dia, juga menjadi tempat anak-anak mengenali potensi diri, belajar hidup bersama orang lain dan mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, keberadaan lembaga pendidikan dinilai menjadi salah satu unsur penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Papua Tengah.

Pendidikan Membutuhkan Kolaborasi

Marthen juga menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.
Menurutnya, terdapat sejumlah unsur yang harus berjalan bersama, mulai dari yayasan, pimpinan sekolah, tenaga pendidik, orang tua, pemerintah hingga masyarakat.
“Keberhasilan pendidikan tidak dapat dicapai oleh sekolah seorang diri. Dibutuhkan kerja sama antara yayasan, kepemimpinan sekolah, guru, orang tua, pemerintah serta seluruh masyarakat,” katanya.
Ia juga menitipkan para siswa MEPA kepada pihak sekolah agar dibentuk menjadi generasi yang memiliki pengetahuan sekaligus keterampilan dan karakter.
Harapannya, lulusan MEPA nantinya tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan daerah asalnya.
Marthen bahkan mendorong agar anak-anak yang mendapatkan pendidikan di MEPA memiliki keberanian untuk kembali berkontribusi di berbagai wilayah Papua.
“Saya titip anak-anak ini, bina mereka sehingga suatu saat mereka tidak seperti pejabat hari ini yang takut turun ke daerah-daerah. Tetapi mereka turun ke sana bersama Tuhan Yesus,” pesannya.
Ia berharap Dies Natalis pertama menjadi titik awal bagi MEPA untuk melakukan pembenahan secara berkelanjutan.

MEPA Berawal dari Kerinduan Membangun Pendidikan Papua

Sementara itu, Ketua Yayasan Honai Generasi Unggul Papua, Nehes Jon Fallo, M.Pd., memaparkan perjalanan MEPA dalam laporan tahunannya.
Menurut Nehes, gagasan mendirikan lembaga tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ide itu berkembang dari pengalaman melihat berbagai kondisi pendidikan di wilayah pegunungan Papua.
Dari pengalaman tersebut kemudian muncul keinginan membangun lembaga pendidikan yang dapat memberikan lingkungan belajar yang lebih baik bagi anak-anak Papua.
MEPA sendiri membawa konsep Mentoring, Education, Prayer dan Action.
Konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan siswa sehari-hari, termasuk melalui sistem pendidikan berasrama.
Nehes menjelaskan bahwa pendekatan yang dibangun tidak hanya berorientasi pada kegiatan belajar mengajar di kelas.
“Yang kami budayakan adalah pindah pikir. Full 24 jam ada pengganti fungsi orang tua. Yang kedua edukasi mereka bukan hanya belajar tentang pelajaran di kelas, tetapi mereka belajar bagaimana hidup,” jelasnya.
Tahun pertama, menurut Nehes, menjadi fase penting untuk meletakkan fondasi sistem pendidikan MEPA.

Dipersiapkan dalam Waktu Sekitar 120 Hari

Salah satu catatan perjalanan MEPA adalah proses persiapannya yang dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Nehes mengatakan pihaknya memiliki waktu sekitar 120 hari untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan sebelum sekolah mulai dijalankan.
Persiapan tersebut mencakup penyusunan master plan, regulasi internal, perekrutan tenaga pengajar, penerimaan siswa hingga kebutuhan operasional dan pengawasan.
“Dalam waktu 120 hari kami membuat master plan, peraturan, rekrut guru, rekrut murid, pengawas. Semua kebutuhan operasional terjalan,” ungkapnya.
MEPA kemudian diluncurkan pada 30 September 2025.

Siswa Tidak Hanya Dibekali Pelajaran Akademik

Dalam perkembangannya, MEPA juga mengembangkan pembelajaran berbasis keterampilan.
Beberapa program yang disiapkan antara lain budidaya ikan air tawar dengan sistem bioflok serta pertanian hidroponik.
Program tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengalaman praktis kepada siswa sejak masa pendidikan mereka.
Dengan demikian, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga individu yang mempunyai kemampuan praktis untuk diterapkan dalam kehidupan.
Nehes mengatakan terdapat beberapa aspek yang ingin dibangun dalam diri siswa, termasuk kerohanian, integritas dan keterampilan.
“Ketika mereka tamat di SMA, mereka bukan hanya punya ini-itu, tetapi mereka juga punya keterampilan,” katanya.

Rencana Pengembangan hingga Perguruan Tinggi

Perjalanan MEPA tidak berhenti pada jenjang pendidikan yang saat ini berjalan.
Yayasan Honai Generasi Unggul Papua juga menyampaikan rencana pengembangan sistem pendidikan yang mencakup PAUD, SD, SMP dan SMA hingga pendidikan tinggi.
Pada jenjang perguruan tinggi, sejumlah program studi sedang dipersiapkan, termasuk Pendidikan Agama Kristen dan Informatika.
Pengembangan tersebut direncanakan berlangsung secara bertahap.
Yayasan juga memiliki rencana membangun kawasan pendidikan terpadu di atas lahan sekitar 8 hektare. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan jangka panjang MEPA.
Tahun 2028 disebut sebagai salah satu target dalam rencana pengembangan dan pemindahan kegiatan menuju kawasan tersebut.

Memperluas Akses Pendidikan Anak Papua

Di tengah rencana pengembangan tersebut, Nehes berharap pemerintah terus mendorong tersedianya akses pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bagi anak-anak di Papua Tengah.
Menurutnya, pendidikan dan keterampilan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak-anak Papua agar mampu menghadapi persaingan dan mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Perayaan Dies Natalis pertama MEPA Boarding School akhirnya bukan hanya menjadi penanda satu tahun perjalanan lembaga pendidikan tersebut.
Momentum itu sekaligus memperlihatkan arah yang ingin dibangun: pendidikan yang menggabungkan akademik, karakter, keterampilan, nilai kerohanian dan pemahaman terhadap budaya Papua.
Dengan semangat “Rooted in Culture, Growing Toward the Future”, MEPA Boarding School memasuki fase berikutnya dengan agenda pengembangan pendidikan yang lebih luas, sekaligus membawa harapan agar generasi Papua dapat tumbuh dengan tetap mengenal akar budaya dan memiliki kesiapan menghadapi masa depan.